The World of Physic

Your description goes here

  • RSS
  • Delicious
  • Facebook
  • Twitter

Popular Posts

Hello world!
Righteous Kill
Quisque sed felis

About Me

Foto saya
saya adalah seorang pelajar yang dianggap idiot oleh tmn2 sebaya saya karna cara berfikir saya yang berbeda dengan anak pada umumnya prinsip saya mengenai pandangan hidup adalah sebuah mimpi atau ilusi di otak kita.oleh karna itu saya paling suka ilmu yang mempelajari alam semesta karna saya tidak suka pengrtauhan yang biasa2 saja (formal) saya paling suka membaca buku tentang karya ilmiah fiktif tentang alam semesta dan juga filsafatnya.pribadi saya. saya orang malas hehehehe. saya susah menghargai pendapat orang lain karna saya sibuk dengan dunia saya sendiri. seperti anak autis.

Popular Posts

Thumbnail Recent Post

time and date

Google Maps

Category List

Righteous Kill

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Quisque sed felis

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Etiam augue pede, molestie eget.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Hellgate is back

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit ...

Post with links

This is the web2feel wordpress theme demo site. You have come here from our home page. Explore the Theme preview and inorder to RETURN to the web2feel home page CLICK ...

Archive for 2010



Pembahasan

Manusia telah dibiasakan sejak mulai kehidupanya, untuk memandang dunia tempat ia hidup memiliki wujud materi yang absolute. Sehingga ia dewasa dengan penkondisian ini, dan menjalani cara pandang hidupnya dengan cara ini. Akan tetapi penemuan ilmu pengetauhan moderen memperlihatkan pernyata’an penting yang sama sekali berbeda dengan anggapan umum. Berikut inilah penjelasanya.

Semua informasi yang kita punyai tentang dunia luar, sampai kepada kiata melaui kelima pancaindra kita. Dunia luar yang kita pahami terdiri atas apa yang dilihat mata, disentuh dengan kulit, dibau dengan hidung, didengar oleh telinga dan dikecap atau dirasakan dengan lidah, manusia hanya bergantung dari lima pancaindera tersebut sejak lahir. Itulah mengapa ia mengeyauhi dunia luar, hanya sebatas informasi dari kelima indra ini. Tetapi penelitian ilmiah tentang indra kita telah mengunggkapkan kenyataan yang sangat berbeda tentang apa yang kita sebut sebagai dunia luar, dan kenyataan ini telah membongkar rahasia penting tentang hakikat ”Materi” yang telah menyusun dunia luar tersebut. Pemikir abat ini fedric freester menjelaskan imu pengetauhan tentang bidang ini. Ia mengatakan, ”pernyata’an sejumlah filosofi & ilmuan tentang manusia adalah gambar, segala yang dirasakan bersifat sementara dan tipuan, dan alam semesta hanyalah sebuah bayangan. Tampak dibuktikan oleh ilmu penetauhan moderen di jaman kita”. Agar lebih memahami hubunagn otak kita yang sesungguhnya dengan dunia luar, marilah kita pahami kembali indra penglihatan yang memberi informasi paling banyak tentang dunia luar.

Proses melihat terjadi secara bertahap, pada saat melihat kumpulan cahaya disebut Foton, bergerak dari benda menuju mata dan menembus lensa mata, dimana foton ini dibelokan tepat di retina, di sini foton diubah menjadi sinyal-sinyal listrik dan kemudian diteruska oleh sel-sel saraf ke pusat penglihatan dibagian belakang otak. Proses melihat yang sesungguhnya terjadi dipusat tersebut yang berada di otak. Semua pemandangan yang kita saksikan di dunia luar selama ini dan semua peristiwa yang kita alami sebenarnya kita alami di tempat yang kecil dan gelap ini. Sekarang marilah kita cermati informasi ini dengan lebih seksama. Ketika kita berkata, ”kita melihat”, kita sesungguhnya melihat efek yang ditimbulkan di otak kita oleh cahaya yang sampai di mata dengan mengubahnya menjadi sinyal-sinyal listrik. Ketika kita berkata, ”kita melihat”, kita sesungguhnya melihat sinyal listrik diotak kita.

Di samping itu ada hal lain yang perlu untuk diingat, otak tertutup rapat dari masuknya cahaya dan bagian dalamnya gelap gulita. Oleh karnanya ia tidak mungkin berhubungan langsung dengan cahaya. kita dapat menjelaskan hal ini dengan sebuah contoh. Anggaplah didepan kita ada sebuah lilin menyala yang kita lihat cahayanya, selama kita melihat cahaya lilin bagian dalam tengkorak dan otak kita sama sekali gelap, cahaya lilin tidak pernah menerangi otak kita maupun pusat penglihatan kita, namun kita melihat dunia yang penuh warna dan terang benderang didalam otak kita yang gelap. Hal yang serupa juga terjadi terhadap indra kita yang lain, suara, sentuhan, rasa dan bau, semua dirasakan dalam otak sebagai sinyal-sinyal listrik. Jadi selam kita hidup otak sama sekali belum pernah menyentuh apa yang selama ini kita anngap dengan dunia luar, melainkan hanya tiruan sinyal-sinyal listrik dari materi yang kita anggap absolute yang terbentuk didalam otak kita. Disinilah kita tertipu bagaimana kita menganggap tiruan berupa sinyal listrik ini sebagai hal yang nyata.

Kenyataan ini telah mengantarkan kita pada kesimpulan yang tak perlu untuk diperdebatkan lagi. Semua yang kita lihat, sentuh, dengar, raba dan rasakan sebagai materi, dunia ataupun alam semesta, hanyalah sinyal listrik didalam otak kita. Sebagai contoh kita melihat seekor burung di dunia luar, nyatanya burung ini bukanlah dari dunia luar, melainkan dari dalam otak kita sendiri. Partikel-partikel cahaya yang dipantulkan burung mengenai mata dan kemudian diubah menjadi sinyal-sinyal listrik, sinyal-sinyal ini diteruskan oleh sel-sel neuron kepusat penglihatan di dalam otak. Burung yang kita lihat adalah sinyal listrik di dalam otak kita. Jika saraf-saraf penglihatan yang menyambungkan mata dengan otak diputus, penampakan seekor burung tersebut akan segera lenyap. Dengan cara yang sama sura dari seekor burung tersebut juga ada didalam otak kita. Jika saraf-saraf pendengaran yang menghubungkan otak dengan telinga diputus, maka tidak ada suara yang terdengar. Sesingkatnya seekor burung yang kita lihat dan suaranya yang kita dengar, merupakan penafsiran sinyal-sinyal listrik didalam otak dan oleh otak kita.

Hal lain yang perlu dicermati dalam persoalan ini adalah perasaan tentang jarak. Misalnya jarak antara anda dengan suatu objek yang lain, tidaklah lebih dari persaan tentang ukuran dan ruang yang terbentuk dalam otak anda, juga benda-benda yang terlihat sangat jauh dalam pandangan seseorang, ternyata adalah sejumlah bayangan yang terkumpul pada satu titik dalam otak. Misalnya seseorang pengamat bintang yang melihat bintang-bintang dilangit yang maha luas, beranggapan bahwa jarak bintang yang ia lihat dari muka bumi berjuta tahun perjalanan cahaya darinya. Padahal bintang-bintang ini berada dalam dirinya sendiri, di pusat penglihatan otaknya. Ketika anda melihat acara televisi di sebuah ruangan, anda sebetulnya tidak ada didalam ruangan yang seperti anda yakini, sebaliknya ruangan tersebut yang ada dalam diri anda. Penglihatan anda terhadap tubuh anda yang berada dalam ruangan, membuat anda berfikir bahwa anda didalam ruangan. namun anda harus ingat bahwa tubuh andapun juga merupakan penampakan yang terbentuk di otak anda.

Apakah keberadaan dunia luar sangat diperlukan?, sejauh ini saya telah mengatakan pada anda berkali-kali tentang dunia luar dan dunia persepsi atau penampakan didalam otak kita, yang terakhir inilah yang sebetulnya kita lihat, namun dikarenakan kita tidak mampu atau belum pernah menyentuh dunia luar sejengkalpun secara langsung, bagaimana dapat meyakinkan kita bawa dunia luar benar-benar ada. Sudah pasti kita tidak dapat satu-satunya dunia yang denganya kita dapat mampu berhubungan langsung adalah dunia persepsi yang kita huni didalam otak kita. Kita meyakini keberadaan benda hanya karna kita dapat mententuh dan melihatnya, dan mereka dimunculkan pada kita oleh penampakan yang kita buat. Tapi penampakan pada kita hanya sekedar gambaran dalam otak, jadi benda-benda yang terekam oleh penampakan yang kita buat, tidak lebih dari sebuah gambaran dan hakikatnya gambaran ini tidak ada melainkan di otak kita. Karena semua ini berada dalam otak, maka ini berarti bahwa kita tertipu jika kita berpendapat alam dan segala sesuatu memiliki wujud di luar otak.

Untuk membayangkan materi mempunyai wujud diluar otak adalah tipuan belaka. Penampakan yang kita saksikan sangat mungkin berasal dari sumber tiruan. Hal ini dapat dipahami dengan contoh berikut. Pertama-tama marilah kita anggap jika kita dapat mengeluarkan otak dari tubuh dan menjaganya tetap hidup dalam sebuah toples kaca, lalu kita ambil komputer dari beragam informasi yang dapat direkamnya. Terakhir marilah kita masukan sinyal-sinyal listrik dari semua data yang mampu memunculkan situasi seperi gambar, suara dan rasa kedalam komputer ini. Marilah kita sambungkan komputer ini dengan otak kita, menggunakan kabel elektroda dan mengirim data yang telah terekam di otak kita, disa’at otak kita mersakan sinyal-sinyal ini, dia akan melihat dan hidup dalam situasi yang dimunculkan oleh sinyal-sinyal ini. Dari komputer ini kita juga dapat mengirim ke otak aktivitas sinyal-sinyal listrik tentang gambaran hidup kita. Misalnya kita dapat mengirim ke otak kita sinyal-sinyal yang behubungan dengan indra penglihatan, pendengaran dan peraba dari yang kita rasakan ketika kita duduk dikursi, dalam kea’ada’an ini otak kita akan menganggap dirinya sebagai seseorang businesman yang sedang duduk dikantornya. Dunia bayangan ini akan berlangsung selama rangsangan sinyal terus menerus datang dari komputer keotak kita. Kita tak pernah menyadari bahwa kita hanya terdiri dari otak, sungguh sangat mudah kita terkecoh dalam mempercyai penampakan yang tanpa disertai wujud materi sebagai hal yang nyata. Inilah yang sebetulnya terjadi dalam mimpi kita.

Bagi anda sesuatu yang nyata adalah, sesuatu yang dapat dilihat dengan mata dan disentuh dengan tangan. Dalam mimpi anda juga pula dapat menyentuh dengan tangan anda dan melihat dengan mata anda. Namun pada kenyataanya anda tak punya tangan ataupun mata, tak ada pula sesuatu apapun yang dapat disentuh ataupun dilihat. Sehingga ketika anda mempercayai apa yang dirasakan pada saat bermimpi, sebagai keberadaan secara materi anda telah tertipu. Sebaagai contoh, seseorang yang tidur pulas di tempat tidurnya dapat melihat dirinya berada dalam dunia yang sama sekali berbeda dalam mimpinya. Ia mungkin bermimpi bahwa ia seorang pilot dan menjadi komandan pesawat raksasa, dan ia bekerja dengan serius mengkomandani pesawat tersebut. Padahal orang ini tidak beranjak selangkahpun dari tempat pambaringanya. Dalam mimpinya ia melihat keadaan yang berbeda seperi bertemu kawan, berbicara dengan mereka, makan dan minum bersama. Kendatipun sebuah penampakan yang tidak memiliki wujud materi, pengalaman dalam bermimpi sungguh sangat terasa nyata. Hanya ketika bangun dari mimpinyalah, ia kemudian menyadari bahwa semua ini hanyalah penampakan. Jika kita dapat dengan mudah hidup dalam dunia semu mimpi kita, maka hal yang sama juga dapat berlaku terhadap dunia yang kita huni sekarang. Ketiuka kita terbangun dari mimpi, tak ada alasan logis untuk berfikir bahwa kita telah memasuki mimpi yang lebih panjang yang kita sebut dunia nyata. Alasan kita menganggap mimpi kita hanyalah sebuah hayalan, sedangkan dunia sebagai alam nyata, hanyalah akibat kebiasaan dan perasangka kita masalah waktu. Ini menunjukan bahwa mungkin saja terbangun dari kehidupan di bumi yang kita anggap sebagai kehidupan saat ini, persis sebagaimana kita terbangun dari mimpi.

Setelah pernyataan tentang materi terungkap, kini muncul pertanyaan yang paling penting. Jika peristiwa yang terjadi dalam alam materi yang kita ketauhi hakikatnya adalah sekedar penampakan, bagaimana sengan otak kita?, oleh karna otak kita juga materi sebagaimana tangan, kaki atau benda materi yang lain, ia mestinya juga penempakan sebagaimana semua benda lainya. Contoh lain mungkin akan meperjelas hal ini, marilah kita anggap kita dapat memanjangkan saraf-saraf yang menuju otak kita, lalu kita keluarkan otak itu dari tubuh kita dan meletakanya disuatu tempat. Sehingga kita dapat melihatnya dengan mata kita, pada keadan ini kita dapat melihat otak kita dan menyentuhnya dengan jari-jari kita. Dengan demikian kita dapat memahami bahwa otak kita tidaklah lebih dari sebuah penampakan yang dibentuk oleh indra penglihatan kita dan peraba, lalu kehendak apakah yang melihat, mendengar dan merasakan semua indra yang lain jika bukan otak?. Siapakah dia yang melihat, mendengar, meraba, dan mersakan rasa dan bau?. Siapakah wujud ini yang berfikir, beralasan, memiliki persaan dan bahkan berkata saya adalah saya. Salah seorang pemikir terkemuka abad kini, Karl Rebaun, juga memiliki pertanyaan yang sama,”sejak zaman yunani para filsuf telah memikirkan tentang hantu di dalam mesin, manusia kecil didalam manusia kecil, dan lain sebagainya, dimanakah saya seseorang yang menggunakan otaknya, siapakah dia yang melakukan perbuatan mengetauhi?”. ternyata wujud gaib yang menggunakan otak, yang melihat dan mersakan ini, adalah ruh, materi adalah penampakan yang dilihat oleh ruh. Begitulah, kendatipun kita memulai dengan anggapan bahwa materi adalah nyata, hukum-hukum fisika, kimia dan biologi, semuanya akan mengantarkan kita pada kenyata’an bahwa materi terbentuk dari hayalan dan pada kenyataanya pasti tentang adanya wujud gaib. Inilah hubungan dunia luar dan otak yang sesungguhnya. Kenyataan ini kelak akan sangat menghawatirkan ilmuan materialis yang meyaikini bahwa materi berwujud absolute.

BAB 3
Rancangan Penelitian

A. Metode penlitian

Kami akan melakukan penlitian dengan metode literature mengenai panca indra dan system koordinasi tubuh manusia yang menghasilkan kesimpulan luar biasa yang menympulkan, kesimpulan puncak bahwa kehidupan hanyalah maya

B. Waktu dan Tempat

Kami mengumpulkan berbagai literature tentang masalah ini secara bergantian dirumah setiap anggota kami dan mengumpulkna buku - buku favorit yang membantu penelitian kami. Kami melakukan hal ini pada tanggal 7 – 14 November 2009.

C. Cara pengamatan data

Kami akan mengumpulkan beberapa literature – literature dan memfilternya sesuai dengan fakta ilmu biologi dan menghubungkan atau membuktikan dengan dalil al quran karena kami tidak dapat membuktikannya dengan eksperimen karena terbatasnya fasilitas – fasilitas ilmiah di Indonesia yang dapat membantu kami , dalam meneliti hal ini


Pendahuluan
A. Latar belakang
Manusia normal dilahirkkan sejak kecil dengan lima panca inderanya , dari mereka lahir sampai sekarang mereka mendapatkan informasi melalui lima panca indera tersebut. Otak mereka berkembang seiring dengan pertambahan informasi di dalam otak, bayangkan jika kita tidak mempunyai kelima panca indra ,kita pasti tidak bisa merasakan kehidupan dengan kata lain kita merasakan kehidupan dengan lima panca idera kita yang memusatkan informasinya di otak. Ada apa dibalik informasi yang diberikan oleh panca inderaa kita di otak, kita akan ulas semua rahasia kehidupan di dalam otak di makalah ini. Mari kita ulas mulai dari indra penglihatan kita yang memberi informasi kita paling banyak


Bagaimana kita dapat melihat ?
Pertama pantulan cahaya dari benda dari masuk ke lensa mata lalu dipusatkan tepat di retina lalu bayangan dari benda di ubah menjadi sinyal sinyal listrik oleh syaraf penglihatan lalu dikirim ke otak dan akhirnya bayangan yang kita lihat barusan dilihat atau dirasakan diotak tempatnya tepat diblakang otak kita yaitu pusat syaraf penglihatan ukuranya sekitar beberapa cm2. Begitu juga dengan cara kerja indra lainnya semua data di ubah menjadi sinyal listrik dan dikirim ke otak. Dari ulasan sepintas tentang cara kerja indra kita kita dapat membuat dugaan sementara, yang tidak perlu diperdebatkan lagi bahwa semua yang kita rasakan, kita dengar, kita lihat, kita raba, dan kita cium selama kita hidup sampai saat ini hanyalah sebuah tiruan sinyal listrik di otak


B. Rumusan masalah
Dari ulasan dari cara kerja indra kita muncul berbagai pertanyaan diantaranya :

- apakah benar semua yang kita rasakan selama ini didunia hanyalah berupa sinyal listrik ?
- berarati hukum materi fisika biologi ataupun kimia yang mengatakan bahwa materi adalah wujud absolute atau nyata selama ini salah, benarkah ?
- apakah benar berarti manusia hanya terdiri dari otak ?
- lantas apakah yang dinamakan wujud absolute sebenarnya ?

C. Tujuan

Tujuan kamu menulis makalah ini agar masyarakat luas tahu bahwa materi sebenarnya tidak berwujud absolute atau mutlak (nyata) dan kehidupan yang selama ini kita rasakan hanyalah sebuah sinyal listrik di otak kita dan untuk menggugurkan teori kimia yang mengatakan bahwa materi berwujud absolute.

D. Manfaat


  1. bagi penulis:
kami dapat mengemukakan pendapat kami dan pandangan hidup kami tentang semua yang kami pahami dan kami ketauhi tentang apa itu hidup dan ada apa dibalik semuanya yang terjadi selama kita hidup didunia ini.

  1. bagi pembaca:
mangetauhi bahwa seiring berkembangnya zaman, ilmu pengetauhan dan teknologi. bahwa pendapat umum tentang hidup adalah kenyataan dan materi adalah absolute adalah SALAH.

E. Hipotesa

Kehidupan yang kita rasakan selama ini hanyalah berupa sinyal listrik di otak, karena otak kita sama sekali belum pernah bersentuhan sedikitpun dengan dunia luar, sehingga tidak dapat meyakinkan keberadaan materi absolute diluar otak kita. Dan menurut kami, sebenarnya materi absolute adalah materi yang merasakan penampakan sinyal listrik yang ada di otak selama ini, yaitu ruh kita, manusia. Dan juga zat yang menciptakan penampakan alam semesta di otak kita secara tarus menerus, yaitu Allah swt. Tentang materi absolute sesungguhnya akan kita bahas di Bab 2.

FOR KIDS: Heaviest named element is official
Superheavy copernicum takes its place in the Periodic Table
Web edition : Monday, March 15th, 2010
font_down font_up Text Size
access
CopernicusThe element copernicum has 112 protons and is named for the 16th century scholar Nicolaus Copernicus (pictured).Dumelow/Wikimedia Commons
Everything on Earth that scientists can see, measure or study is made of atoms — and atoms are named by what type of element they are. You probably know the name of many elements, such as oxygen, gold or hydrogen. Others, such as cadmium or xenon, may sound strange and exotic. In any case, elements are everywhere: You, your shoes, your desk, cars, water, air — all made of elements.
Now, there’s a new kid on the block: Elements, meet copernicum.
This element was officially named on February 19, but the element itself isn’t new. German scientists made and observed it in 1996. But in the 14 years since then, other scientists have been working to study and validate the original findings. A scientific breakthrough is “validated” when other scientists can perform the same experiment and get the same results. Validation is an important part of the scientific process because it demonstrates that a scientific discovery was not a mistake.
All that hard work finally paid off when the element finally received its name, copernicum, from the International Union of Pure and Applied Chemistry (the organization in charge of making sure chemists all over the world use the same words to mean the same things.) Copernicum is named in honor of Nicolaus Copernicus, a 16th century Polish scholar who proposed that Earth orbits the sun (rather than that everything orbits Earth) and that Earth turns on its own axis. These ideas may seem obvious now, but in 16th century Europe, they were revolutionary.
Scientists organize all the elements on a chart called the Periodic Table. Each element gets a symbol and its own number, and copernicum gets the symbol Cn and the number 112. This number means that inside every atom of copernicum are 112 protons. Protons are particles inside the nucleus, or core, of every atom. The lightest element, hydrogen, has only one proton inside each atom.
Its 112 protons make copernicum the heaviest known element with a name. It was first observed by Sigurd Hofmann, a scientist at the Center for Heavy Ion Research, or GSI, in Darmstadt, Germany. Hofmann and his team created copernicum in the laboratory when they blasted atoms of lead (each with 82 protons) with zinc isotopes, kinds of zinc atoms that each had 30 protons.
This was no easy process: You can’t just shoot one atom at another and expect the atoms to buddy up. In 1996, Hofmann and his team had to figure out a way to get all the protons together — and stick. They used a machine, called the Universal Linear Accelerator, that can accelerate atoms up to 10 percent the speed of light. After a week of working on these high-speed collisions, Hofmann’s team found copernicum — even though it quickly vanished. Most of the superheavy elements in copernicum’s neighborhood — those that are heavier than uranium — tend to be unstable, which means they decay into smaller atoms quickly.
Now, 14 years after Hofmann’s experiment, other scientists are able to make copernicum and validate Hofmann’s original work. Scientists are excited about copernicum. If such a superheavy atom can be created, then even heavier elements might be waiting in the future. “One of the exciting things is, how far can we keep going?” says nuclear chemist Paul Karol of Carnegie Mellon University in Pittsburgh.
POWER WORDS (adapted from the Yahoo! Kids Dictionary)
element A substance composed of atoms all having the same number of protons in the nucleus. Elements cannot be reduced to simpler substances by normal chemical means.
atom A unit of matter, the smallest unit of an element, having all the characteristics of that element and consisting of a dense, central, positively charged nucleus surrounded by a system of electrons.
proton A stable, positively charged subatomic particle.
uranium A heavy, silvery-white, metallic element that is radioactive, toxic and easily oxidized. It has 92 protons in each atom.

Planet Smash-Up Sends Vaporized Rock, Hot Lava Flying


This artist's concept shows a celestial body about the size of our moon slamming at great speed into a body the size of Mercury. NASA's Spitzer Space Telescope found evidence that a high-speed collision of this sort occurred a few thousand years ago around a young star, called HD 172555, still in the early stages of planet formation. The star is about 100 light-years from Earth. (Credit: NASA/JPL-Caltech)
Astronomers say that two rocky bodies, one as least as big as our moon and the other at least as big as Mercury, slammed into each other within the last few thousand years or so -- not long ago by cosmic standards. The impact destroyed the smaller body, vaporizing huge amounts of rock and flinging massive plumes of hot lava into space.
Spitzer's infrared detectors were able to pick up the signatures of the vaporized rock, along with pieces of refrozen lava, called tektites.
"This collision had to be huge and incredibly high-speed for rock to have been vaporized and melted," said Carey M. Lisse of the Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory, Laurel, Md., lead author of a new paper describing the findings in the Aug. 20 issue of the Astrophysical Journal. "This is a really rare and short-lived event, critical in the formation of Earth-like planets and moons. We're lucky to have witnessed one not long after it happened."
Lisse and his colleagues say the cosmic crash is similar to the one that formed our moon more than 4 billion years ago, when a body the size of Mars rammed into Earth.
"The collision that formed our moon would have been tremendous, enough to melt the surface of Earth," said co-author Geoff Bryden of NASA's Jet Propulsion Laboratory, Pasadena, Calif. "Debris from the collision most likely settled into a disk around Earth that eventually coalesced to make the moon. This is about the same scale of impact we're seeing with Spitzer -- we don't know if a moon will form or not, but we know a large rocky body's surface was red hot, warped and melted."
Our solar system's early history is rich with similar tales of destruction. Giant impacts are thought to have stripped Mercury of its outer crust, tipped Uranus on its side and spun Venus backward, to name a few examples. Such violence is a routine aspect of planet building. Rocky planets form and grow in size by colliding and sticking together, merging their cores and shedding some of their surfaces. Though things have settled down in our solar system today, impacts still occur, as was observed last month after a small space object crashed into Jupiter.
Lisse and his team observed a star called HD 172555, which is about 12 million years old and located about 100 light-years away in the far southern constellation Pavo, or the Peacock (for comparison, our solar system is 4.5 billion years old). The astronomers used an instrument on Spitzer, called a spectrograph, to break apart the star's light and look for fingerprints of chemicals, in what is called a spectrum. What they found was very strange. "I had never seen anything like this before," said Lisse. "The spectrum was very unusual."
After careful analysis, the researchers identified lots of amorphous silica, or essentially melted glass. Silica can be found on Earth in obsidian rocks and tektites. Obsidian is black, shiny volcanic glass. Tektites are hardened chunks of lava that are thought to form when meteorites hit Earth.
Large quantities of orbiting silicon monoxide gas were also detected, created when much of the rock was vaporized. In addition, the astronomers found rocky rubble that was probably flung out from the planetary wreck.
The mass of the dust and gas observed suggests the combined mass of the two charging bodies was more than twice that of our moon.
Their speed must have been tremendous as well -- the two bodies would have to have been traveling at a velocity relative to each other of at least 10 kilometers per second (about 22,400 miles per hour) before the collision.
Spitzer has witnessed the dusty aftermath of large asteroidal impacts before, but did not find evidence for the same type of violence -- melted and vaporized rock sprayed everywhere. Instead, large amounts of dust, gravel, and boulder-sized rubble were observed, indicating the collisions might have been slower-paced. "Almost all large impacts are like stately, slow-moving Titanic-versus-the-iceberg collisions, whereas this one must have been a huge fiery blast, over in the blink of an eye and full of fury," said Lisse.
Other authors include C.H. Chen of the Space Telescope Science Institute, Baltimore, Md.; M.C. Wyatt of the University of Cambridge, England; A. Morlok of the Open University, London, England; I. Song of The University of Georgia, Athens, Ga.; and P. Sheehan of the University of Rochester, N.Y.
Email or share this story:
 

 

Science News

Radar Map of Buried Martian Ice Adds to Climate Record

ScienceDaily (Mar. 5, 2010) — Extensive radar mapping of the middle-latitude region of northern Mars shows that thick masses of buried ice are quite common beneath protective coverings of rubble.

The ability of NASA's Mars Reconnaissance Orbiter to continue charting the locations of these hidden glaciers and ice-filled valleys -- first confirmed by radar two years ago -- adds clues about how these deposits may have been left as remnants when regional ice sheets retreated.
The subsurface ice deposits extend for hundreds of kilometers, or miles, in the rugged region called Deuteronilus Mensae, about halfway from the equator to the Martian north pole. Jeffrey Plaut of NASA's Jet Propulsion Laboratory, Pasadena, Calif., and colleagues prepared a map of the region's confirmed ice for presentation at this week's 41st Lunar and Planetary Science Conference near Houston.


A radar on NASA's Mars Reconnaissance Orbiter has detected widespread deposits of glacial ice in the mid-latitudes of Mars. (Credit: NASA/JPL-Caltech/ASI/University of Rome/Southwest Research Institute)
The Shallow Radar instrument on the orbiter has obtained more than 250 observations of the study area, which is about the size of California.
"We have mapped the whole area with a high density of coverage," Plaut said. "These are not isolated features. In this area, the radar is detecting thick subsurface ice in many locations." The common locations are around the bases of mesas and scarps, and confined within valleys or craters.
Plaut said, "The hypothesis is the whole area was covered with an ice sheet during a different climate period, and when the climate dried out, these deposits remained only where they had been covered by a layer of debris protecting the ice from the atmosphere."
The researchers plan to continue the mapping. These buried masses of ice are a significant fraction of the known non-polar ice on Mars. The ice could contain a record of environmental conditions at the time of its deposition and flow, making the ice masses an intriguing possible target for a future mission with digging capability.
The Shallow Radar instrument was provided by the Italian Space Agency, and its operations are led by the InfoCom Department, University of Rome "La Sapienza." Thales Alenia Space Italia, in Rome, is the Italian Space Agency's prime contractor for the radar instrument. Astro Aerospace of Carpinteria, Calif., a business unit of Los Angeles-based Northrop Grumman Corp., developed the instrument's antenna as a subcontractor to Thales Alenia Space Italia.
The Mars Reconnaissance Orbiter mission is managed by JPL for NASA's Science Mission Directorate in Washington. Lockheed Martin Space Systems in Denver was the prime contractor for the orbiter and supports its operations. The California Institute of Technology in Pasadena manages JPL for NASA.
 

Nicolaus Copernicus


Gambar potret dari Toruń, awal abad ke-16
Gambar potret dari Toruń, awal abad ke-16
Lahir 19 Februari 1473,
Toruń (Thorn), sekarang Polandia.
Wafat 24 Mei 1543 (umur 70),
Frombork (Frauenburg), Warmia, sekarang Polandia
Bidang Matematika, astronomi, hakim, tabib, ilmuwan, rahib Katolik, gubernur, pejabat negara, komandan militer, diplomat, ahli ekonomi
Alma Mater Universitas Kraków, Universitas Bologna, Universitas Padua, Universitas Ferrara.
Dikenal atas Heliosentrisme
Agama Katolik Roma
Niklas Koppernigk (latin: Nicolaus Copernicus; bahasa Polandia Mikołaj Kopernik; lahir di Toruń, 19 Februari 1473 – meninggal di Frombork, 24 Mei 1543 pada umur 70 tahun) adalah seorang astronom, matematikawan, dan ekonom berkebangsaan Polandia, yang mengembangkan teori heliosentrisme (berpusat di matahari) Tata Surya dalam bentuk yang terperinci, sehingga teori tersebut bermanfaat bagi sains. Ia juga seorang kanon gereja, gubernur dan administrator, hakim, astrolog, dan tabib. Teorinya tentang matahari sebagai pusat Tata Surya, yang menjungkirbalikkan teori geosentris tradisional (yang menempatkan Bumi di pusat alam semesta) dianggap sebagai salah satu penemuan yang terpenting sepanjang masa, dan merupakan titik mula fundamental bagi astronomi modern dan sains modern (teori ini menimbulkan revolusi ilmiah). Teorinya memengaruhi banyak aspek kehidupan manusia lainnya. Universitas Nicolaus Copernicus di Torun, didirikan tahun 1945, dinamai untuk menghormatinya.
“Ada beberapa 'pembual' yang berupaya mengkritik karya saya, padahal mereka sama sekali tidak tahu matematika, dan dengan tanpa malu menyimpangkan makna beberapa ayat dari Tulisan-Tulisan Kudus agar cocok dengan tujuan mereka, mereka berani mengecam dan menyerang karya saya; saya tidak khawatir sedikit pun terhadap mereka, bahkan saya akan mencemooh kecaman mereka sebagai tindakan yang gegabah”.
Nikolaus Kopernikus menulis kata-kata yang dikutip di atas kepada Paus Paulus III. Kopernikus mencantumkan kata-kata itu dalam karya terobosannya yang berjudul On the Revolutions of the Heavenly Spheres (mengenai perputaran bola-bola langit), yang diterbitkan pada tahun 1543. Mengenai pandangan yang dinyatakan dalam karyanya ini, Christoph Clavius, seorang imam Yesuit pada abad ke-16, mengatakan, "Teori Kopernikus memuat banyak pernyataan yang tidak masuk akal atau salah". Teolog Jerman, Martin Luther, menyayangkan, "Si dungu itu akan mengacaukan seluruh ilmu astronomi".

Latar belakang pemuda yang haus pengetahuan

Lahir pada tanggal 19 Februari 1473 di Toruń, yang pada waktu itu di bawah kekuasaan suatu ordo Kristen bernama Ordo Teutonicum, nama aslinya ialah Niklas Koppernigk (Mikołaj Kopernik, dalam bahasa Polandia yang merupakan bahasa sehari-hari pada waktu itu). Baru belakangan, sewaktu ia mulai menulis karya akademinya, ia menggunakan nama Latin, Nicolaus Copernicus. Ayahnya, seorang saudagar yang berdagang di Toruń, mempunyai empat anak; Nicolaus adalah si bungsu. Sewaktu Nicolaus berusia 11 tahun, ayahnya meninggal. Seorang paman, bernama Lucas Waczenrode, mengasuh Nicolaus dan saudara-saudara kandungnya. Ia membantu Nicolaus memperoleh pendidikan yang baik, menganjurkannya untuk menjadi imam.
Pendidikan Nicolaus dimulai di kampung halamannya, tetapi belakangan dilanjutkan di Chełmno yang tidak jauh dari situ. Di sana ia belajar bahasa Latin dan mempelajari karya para penulis kuno. Pada usia 18 tahun, ia pindah ke Kraków, ibukota Polandia saat itu. Di kota ini ia kuliah di universitas dan mengajar dan mengejar hasratnya akan astronomi. Setelah ia menyelesaikan pendidikannya di Kraków, paman dari Nikolaus — yang pada waktu itu telah menjadi uskup di Warmia — memintanya untuk pindah ke Frombork, sebuah kota di Laut Baltik. Waczenrode ingin kemenakannya menduduki jabatan staf katedral.
Akan tetapi, Nicolaus yang berusia 23 tahun ingin memuaskan dahaganya akan pengetahuan dan berhasil membujuk pamannya untuk mengizinkan dia mempelajari hukum gereja, kedokteran, dan matematika di berbagai universitas di Bologna dan Padua, Italia. Di sana, Nicolaus bergabung dengan astronom Domenico Maria Novara dan filsuf Pietro Pomponazzi. Sejarawan Stanisław Brzostkiewicz mengatakan bahwa ajaran Pomponazzi telah "membebaskan pikiran astronom muda ini dari cengkraman ideologi abad pertengahan".
Di waktu senggangnya, Copernicus mempelajari karya para astronom zaman dahulu, menjadi begitu larut dalam karya tersebut sampai-sampai ketika ia mengetahui karya Latin itu tidak lengkap, ia mempelajari bahasa Yunani agar dapat meneliti naskah aslinya. Pada akhir pendidikannya, Nicolaus telah menjadi doktor hukum gereja, matematikawan, dan dokter. Ia juga pakar bahasa Yunani, menjadi orang pertama yang menerjemahkan sebuah dokumen dari bahasa Yunani langsung ke bahasa Polandia.

Menelurkan teori yang revolusioner

Sepulangnya ke Polandia, pamannya melantik dia sebagai sekretaris, penasihat, dan dokter pribadinya — suatu kedudukan yang bergengsi. Selama puluhan tahun berikutnya, Nicolaus menjabat berbagai kedudukan administratif, baik di bidang agama maupun sipil. Meski sangat sibuk, ia melanjutkan penelitiannya tentang bintang dan planet, mengumpulkan bukti untuk mendukung suatu teori yang revolusioner bahwa bumi bukan pusat yang tidak bergerak dari alam semesta tetapi, sebenarnya, bergerak mengitari matahari.
Teori ini bertentangan dengan ajaran filsuf yang terpandang, Aristoteles, dan tidak sejalan dengan kesimpulan matematikawan Yunani, Ptolemeus. Selain itu, teori Copernicus menyangkal apa yang dianggap sebagai "fakta" bahwa matahari terbit di timur dan bergerak melintasi angkasa untuk terbenam di barat, sedangkan bumi tetap tidak bergerak.
Copernicus bukanlah orang yang pertama yang menyimpulkan bahwa bumi berputar mengitari matahari. Astronom Yunani Aristarkhus dari Samos telah mengemukakan teori ini pada abad ketiga Sebelum Masehi. Para pengikut Pythagoras telah mengajarkan bahwa bumi serta matahari bergerak mengitari suatu api pusat. Akan tetapi, Ptolemeus menulis bahwa jika bumi bergerak, "binatang dan benda lainnya akan bergelantungan di udara, dan bumi akan jatuh dari langit dengan sangat cepat". Ia menambahkan, "sekadar memikirkan hal-hal itu saja terlihat konyol".
Ptolemeus mendukung gagasan Aristoteles bahwa bumi tidak bergerak di pusat alam semesta dan dikelilingi oleh serangkaian bola bening yang saling bertumpukan, dan bola-bola itu tertancap matahari, planet-planet, dan bintang-bintang. Ia menganggap bahwa pergerakan bola-bola bening inilah yang menggerakan planet dan bintang. Rumus matematika Ptolemeus menjelaskan, dengan akurasi hingga taraf tertentu, pergerakan planet-planet di langit malam.
Namun, kelemahan teori Ptolemeus itulah yang mendorong Copernicus untuk mencari penjelasan alternatif atas pergerakan yang aneh dari planet-planet. Untuk menopang teorinya, Kopernikus merekonstruksi peralatan yang digunakan oleh para astronom zaman dahulu. Walaupun sederhana dibandingkan dengan standar modern, peralatan ini memungkinkan dia menghitung jarak relatif antara planet-planet dan matahari. Selama bertahun-tahun, ia berupaya menetukan secara persis tanggal-tanggal manakala para pendahulunya telah membuat beberapa pengamatan penting di bidang astronomi. Diperlengkapi dengan data ini, Copernicus mulai mengerjakan dokumen kontroversial yang menyatakan bahwa bumi dan manusia di dalamnya bukanlah pusat alam semesta.

Kontroversi manuskrip

Monumen Copernicus di Warsawa, Polandia yang dipahat oleh Bertel Thorvaldsen.
Copernicus menggunakan tahun-tahun terakhir kehidupannya untuk memperbaiki dan melengkapi berbagai argumen dan rumus matematika yang menopang teorinya. Lebih dari 95 persen dokumen akhir itu memuat perincian teknis yang mendukung kesimpulannya. Dokumen tulisan tangan orisinal ini masih ada dan disimpan di Universitas Jagiellonian di Kraków, Polandia. Dokumen ini tidak berjudul. Oleh karena itu, astronom Fred Hoyle menulis, "Kita benar-benar tidak tahu bagaimana Copernicus ingin menamai bukunya itu".
Bahkan sebelum karya itu diterbitkan, isinya telah membangkitkan minat. Copernicus telah menerbitkan sebuah rangkuman singkat tentang gagasannya dalam sebuah karya yang disebut Commentariolus. Alhasil, laporan tentang penelitiannya sampai ke Jerman dan Roma. Pada awal tahun 1533, Paus Klemens VII mendengar tentang teori Copernicus. Dan, pada tahun 1536, Kardinal Schönberg menyurati Copernicus, mendesak dia untuk menerbitkan catatan lengkap gagasannya. Georg Joachim Rhäticus, seorang profesor di Universitas Wittenberg di Jerman, begitu penasaran oleh karya Copernicus sampai-sampai ia mengunjungi Copernicus dan akhirnya menghabiskan waktu bersamanya selama dua tahun. Pada tahun 1542, Rhäticus membawa pulang sebuah salinan manuskrip itu ke Jerman dan menyerahkannya kepada seorang tukang cetak bernama Petraeius dan seorang juru tulis sekaligus korektor tipografi bernama Andreas Osiander.
Osiander menjuduli karya itu De revolutionibus orbium coelestium (Mengenai Perputaran Bola-Bola Langit). Dengan mencantumkan frasa “bola-bola langit”, Osiander menyiratkan bahwa karya itu dipengaruhi oleh gagasan Aristoteles. Osiander juga menulis kata pengantar anonim, yang menyatakan bahwa hipotesis dalam buku itu bukanlah artikel tentang iman dan belum tentu benar. Copernicus tidak menerima salinan dari buku yang dicetak itu, yang diubah dan dikompromikan tanpa seizinnya, sampai hanya beberapa jam sebelum kematiannya pada tahun 1543.
Dalam pemikiran manusia, ia juga “menghentikan matahari dan menggerakkan bumi”.

"Mengenai Perputaran" — karya yang revolusioner

Perubahan yang dibuat Osiander pada mulanya meluputkan buku itu dari kecaman. Asronom dan fisikawan Italia, Galileo, belakangan menulis, "Sewaktu dicetak, buku itu diterima oleh Gereja suci dan telah dibaca dan dipelajari oleh setiap orang tanpa sedikit pun kecurigaan bahwa gagasan ini bertentangan dengan doktrin-doktrin gereja. Namun, mengingat sekarang ada berbagai pengalaman dan bukti penting yang memperlihatkan bahwa gagasan itu memiliki bukti yang kuat, muncullah orang-orang yang hendak mendiskreditkan pengarangnya tanpa membaca bukunya sedikit pun".
Kaum Lutheran merupakan yang pertama-tama menyebut buku itu "tidak masuk akal". Gereja Katolik, meski pada mulanya tidak menyatakan kecaman, memutuskan bahwa buku itu bertentangan dengan doktrin resminya dan pada tahun 1616 mencantumkan karya Copernicus ke dalam buku-buku terlarang. Buku itu baru dicabut dari daftar ini pada tahun 1828. Dalam kata pengantarnya untuk terjemahan bahasa Inggris dari buku itu, Charles Glenn Wallis menjelaskan, "Pertikaian antara Katolik dan Protestan membuat kedua sekte itu takut pada skandal apa pun yang tampaknya dapat merongrong respek terhadap Kegerejaan Alkitab, dan akibatnya mereka menjadi terlalu harfiah dalam membaca ayat Alkitab dan cenderung mengutuki setiap pernyataan yang dapat dianggap sebagai penyangkalan atas setiap penafsiran harfiah dari setiap ayat dalam Alkitab". Sebagai contoh, kisah yang dicatat di Yosua 10:13, yang menceritakan tentang matahari yang dibuat tidak bergerak, digunakan untuk menegaskan bahwa matahari, bukan bumi, yang biasanya bergerak. Mengenai anggapan bahwa teori Kopernikus bertentangan dengan ajaran Alkitab, Galileo menulis, " [Copernicus] tidak mengabaikan Alkitab, tetapi ia tahu betul bahwa jika doktrinnya terbukti, hal itu tidak akan bertentangan dengan Alkitab apabila ayat-ayatnya dipahami dengan benar".
Dewasa ini, Copernicus disanjung oleh banyak orang sebagai Bapak Astronomi Modern. Memang, uraiannya tentang alam semesta telah dimurnikan dan diperbaiki oleh ilmuwan yang tekemudian, seperti Galileo, Kepler, dan Newton. Akan tetapi, astofisikawan Owen Gingerich mengomentari, "Copernicuslah yang dengan karyanya memperlihatkan kepada kita bagaimana rapuhnya konsep ilmiah yang sudah diterima untuk waktu yang lama". Melalui penelitian, pengamatan, dan matematika, Kopernikus menjungkirkbalikkan konsep ilmiah dan agama yang berurat berakar tetapi keliru. Dalam pemikiran manusia, ia juga “menghentikan matahari dan menggerakkan bumi”.

Kontroversi kewarganegaraan

Kewarganegaraan Copernicus mulai abad ke-19 menjadi bahan perdebatan sengit. Namun sebenarnya ia bisa dikategorisasikan baik sebagai warga Jerman maupun Polandia. Dalam bahasa Jerman namanya secara umum dieja sebagai Kopernikus dan merupakan versi Latin dari nama Jerman Koppernigk. Dalam bahasa Polandia namanya dieja sebagai Mikołaj Kopernik. Ibu Kopernikus yang bernama Barbara Watzenrode merupakan seorang warga Jerman. Sedangkan kewarganegaraan ayahnya tidak diketahui. Kota kelahirannya Toruń tidak lama sebelum ia lahir dikuasai raja-raja Polandia, sehingga ia bisa dianggap sebagai warga Polandia.

Werner Heisenberg


Werner Heisenberg
Werner Karl Heisenberg (5 Desember 1901 - 1 Februari 1976) adalah seorang ahli teori sub-atom dari Jerman, pemenang Penghargaan Nobel dalam Fisika 1932.

Tahun-tahun awal

Tahun-tahun sekolah lanjutan Werner Heisenberg terputus oleh Perang Dunia I, saat ia terpaksa meninggalkan sekolah untuk membantu memungut hasil panen di negeri Bayern. Kembali ke München setelah perang, ia bersukarela menjadi pembawa pesan untuk angkatan sosialis demokrat yang bertempur dan mengusir pemerintahan komunis yang telah mengambil kontrol Bayern. Ia terlibat dalam kelompok pemuda yang mencoba membangun kembali masyarakat Jerman dari abu Perang Dunia I, termasuk "Pramuka Baru" yang mengharapkan kehidupan Jerman melalui pengalaman langsung kepada alam, puisi romantik, musik, dan pemikiran.

Karir

Heisenberg merupakan salah satu penyumbang besar ilmu fisika pada abad ke-20. Pada tahun 1920 ia memasuki Universitas München untuk belajar matematika. Namun guru besar matematika tak mengizinkannya pada seminar lanjutan, maka ia berhenti. Ia kemudian pindah ke fisika. Segera ia mengambil perhatian dalam fisika teoretis, dan segera bertemu banyak ilmuwan yang karyanya akan mendominasi dasawarsa-dasawarsa berikutnya, termasuk Niels Henrik David Bohr, Wolfgang Ernst Pauli, Max Born, dan Enrico Fermi. Satu dari perhatian utamanya ialah menyusun masalah dalam model atom Bohr-Rutherford. Ia baru saja menerima Ph.D.-nya pada tahun 1923 — hampir gagal sebab ia melalaikan karya laboratoriumnya. Penasihatnya berdebat atas namanya dan ia diberi gelar. Ia menjadi profesor di Universitas Gottingen pada usia 22. Karena menderita beberapa alergi musiman, ia meninggalkan Bayern ke pulau Heligoland. Di sana ia memiliki waktu berpikir dan memecahkan masalah model atom. Ia merealisasikan pembatasan model visual dan mengusulkan bekerja keras dengan data eksperimental dan hasil matematika. Untuk melakukannya ia menerapkan sistem matematika pada fisika atom, disebut mekanika matriks. Inilah titik balik fisika. Banyak orang di bidang ini tak suka karena tak menyediakan model fisika untuk menghubungkannya. Erwin Schrodinger muncul dengan mekanika gelombang sekitar setahun kemudian. Ketidaknyamanan dengan sistem Heisenberg naik pada sisi mekanika gelombang. Pertentangan antarteori terpecahkan kembali saat Schrödinger membuktikan bahwa semuanya identik.
Pada tahun 1926 Heisenberg mengikuti Bohr ke Institut Fisika Teori di Kopenhagen. Ini menjadi satu dari masa paling produktif dalam kehidupan Heisenberg. Pada tahun 1927 ia memikirkan sifat kuantum dasar pada elektron. Ia mewujudkan bahwa tindakan pengukuran sifat elektron dengan menembakkannya dengan sinar gamma akan mengubah perilaku elektron. Ia menghubungkannya dalam persamaan menggunakan tetapan Planck, dan menyebutnya teori ketidakpastian. Saat banyak orang mempertahankan gagasan ini, akhirnya diterima sebagai hukum dasar alam. Albert Einstein sendiri menyanggahnya dengan mengatakan bahwa "Tuhan menciptakan alam ini tidak sedang bermain dadu".
Kemudian pada tahun 1927 Heisenberg kembali ke Jerman dan menjadi guru besar termuda di sana. Jabatan guru besar meminta urusan penuh pada tugas pengajaran dan administrasi, dan secara alamiah output ilmiahnya berkurang. Dengan kerusuhan politik di Jerman dan Perang Dunia II, hidup Heisenberg menjadi sulit. Ada eksodus massal ilmuwan Jerman pada tahun 1930-an, namun Heisenberg merupakan satu dari sedikit ilmuwan berderajat tinggi yang memutuskan tetap tinggal. Bersama dengan Max Karl Ernst Ludwig Planck, ia menunjukkan harapan sanggup melindungi tradisi dan institusi ilmiah Jerman. Pertama ia dan lainnya mencoba menghalangi usaha Adolf Hitler untuk "membersihkan" ilmu pengetahuan dan akademi, namun segera Nazi mengontrol universitas. Kedudukannya sendiri goyah sejak Nazi mengatakan fisikawan teoretis sebagai "Yahudi" dan selalu dicurigai. Usaha menaikkannya bertemu dengan lawan keras dari pemimpin politik dan malahan beberapa kolega. Ada waktu saat keamanan dirinya tak menentu.
Meskipun demikian, ia lulus penilaian kepribadian bahkan pimpinan pasukan SS (Schutzstaffel), Heinrich Himmler melarang penyerangan politis terhadap ahli fisika.
Namun saat perang mulai pemerintah mengakui, mencurigai atau tidak, kepentingan pengetahuan Heisenberg. Ia diangkat sebagai direktur proyek bom atom Jerman. Ia menghabiskan 5 tahun bekerja di sana.

Proyek bom atom Nazi

Meski bermasalah dengan pemerintahan Nazi, Heisenberg diperbolehkan menetap di Jerman bahkan loyal kepada Nazi. Setelah fisi Nuklir ditemukan di Jerman pada tahun 1939, Heisenberg masuk dalam program tenaga nuklir dibawah pimpinan Profesor Walther Bothe. Program ini mengembangkan sati dari senjata nuklir Jerman.
Tugas Heisenberg adalah menciptakan reaksi fisi yang bertahan dan menciptakan reaktor pembiakan plutonium di Hechingen. Di lain tempat Profesor Kurt Diebner dan Dr Paul Harteck, sejawatnya memimpin proyek bom atom tandingan. Mengerjakan pengayaan uranium dan bom atom berbasis uranium.
Di sinilah kontroversial muncul. Heinsenberg dianggap salah menghitung massa kritikal uranium yang dibutuhkan sebuah bom atom. Kesalahan inilah yang dituding sebagai biang kegagalan proyek nbom atom Jerman. Konon, saat Heisenberg mendengar kabar pengeboman Hiroshima, ia menganggap hal itu sebagai taktik propaganda Sekutu saja. Sementara di Jepang, Akio Morita, pendiri Sony juga pernah memperhitungkan bom atom ini saat bertugas di penelitian pengembangan persenjataan Angkatan Laut Jepang (Kaigun), Morita sendiri mengatakan bahwa Jepang perlu 20 tahun untuk membuatnya.
Heisenberg sendiri pernah membicarakan program pembuatan bom atom dengan Niels Bohr. Namun pembicaraan mereka tidak pernah tuntas karena Bohr keburu lari ke Amerika Serikat setelah lolos dari tahanan polisi Jerman. Tanpa basa-basi, Amerika Serikat merekrutnya dalam Proyek Manhattan.
Disini kemudian muncul spekulasi lainn yang mengatakan bahwa Heisenberg sebenarnya tahu banyak tentang semua teori atom namun ia sengaja memperlambat dan menggagalkan proyek nuklir Jerman atas alasan moral. Diam-diam, menteri persenjataan Albert Speer sendiri mendukung langkahnya ini, yang kemudian berbuah friksi di tubuh Nazi.

Pascaperang

Di akhir perang, Heisenberg ditangkap Sekutu dan ditahan di Inggris selama 6 bulan. Ia dibebaskan dan kembli ke Jerman saat ia mendirikan kembali Institut Kaiser Wilhelm untuk Fisika, namun menamainya kembali Institut Max Planck, untuk menghormati kawan dan koleganya.
Heisenberg memberi kuliah di berbagai negara pasca Perang Dunia II termasuk di Inggris, Amerika Serikat dan Skotlandia, sebelum akhirnya pindah ke Munich untuk bekerja di Institut Max Planck untuk Fisika. Pada tahun 1955-1956 Heisenberg memberi kuliah Gifford di St. Andrews University dan menulis buku Physik und Philosophie.
Pada tahun 1957, Heisenberg bersama Otto Hahn, Max Laue, Carl Friedrich von Weizsacker dan Max Born merumuskan dan menandatangani protes melawan pengerahan senjata nuklir oleh Angkatan Bersenjata Jerman dan di seluruh dunia. Rumusan ini dikenal sebagai Gottingen Declaration of the German Nuclear Physicist.
Ia memegang banyak kedudukan administratif di Jerman Barat dan mewakili negaranya pada pertempuran internasional. Ia beristirahat pada tahun 1970, dan meninggal pada tahun 1976 meninggalkan istri yang masih berusia 39 dan 7 anak.
Pada bulan Februari 2002, kisah tentang dirinya kembali mencuat setelah seseorang menemukan surat dai Niels Bohr yang tak terkirim. Surat inilah yang menjadi landasan jurnalis Robert Junk dalam tulisannya Brighter than a Thousand Suns untuk menggambarkan Heisenberg sebagai pahlawan. Ia dianggap sebagai pahlawan karena telah berusaha menyesatkan proyek Jerman sendirian, atas alasan moral

Galileo Galilei


Galileo Galilei
Potret Galileo Galilei oleh Giusto Sustermans
Potret Galileo Galilei oleh Giusto Sustermans
Lahir 15 Februari 1564[1]
Pisa, Toscana - Italia[1]
Wafat 8 Januari 1642 (umur 77)[1]
Arcetri, Toscana - Italia[1]
Tempat tinggal Keadipatian Agung Toscana
Bidang Astronomi, Fisika dan Matematika
Alma Mater Universitas Pisa
Dikenal atas Kinematika
Teleskop
Tata surya
Agama Katolik Roma
Galileo Galilei (lahir di Pisa, Toscana, 15 Februari 1564 – meninggal di Arcetri, Toscana, 8 Januari 1642 pada umur 77 tahun) adalah seorang astronom, filsuf, dan fisikawan Italia yang memiliki peran besar dalam revolusi ilmiah.
Sumbangannya dalam keilmuan antara lain adalah penyempurnaan teleskop, berbagai observasi astronomi, dan hukum gerak pertama dan kedua (dinamika). Selain itu, Galileo juga dikenal sebagai seorang pendukung Copernicus mengenai peredaran bumi mengelilingi matahari.
Akibat pandangannya yang disebut terakhir itu ia dianggap merusak iman dan diajukan ke pengadilan gereja Italia tanggal 22 Juni 1633. Pemikirannya tentang matahari sebagai pusat tata surya bertentangan dengan ajaran Aristoteles maupun keyakinan gereja bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Ia dihukum dengan pengucilan (tahanan rumah) sampai meninggalnya. Baru pada tahun 1992 Paus Yohanes Paulus II menyatakan secara resmi bahwa keputusan penghukuman itu adalah salah, dan dalam pidato 21 Desember 2008 Paus Benediktus XVI menyatakan bahwa Gereja Katolik Roma merehabilitasi namanya sebagai ilmuwan.[2]
Menurut Stephen Hawking, Galileo dapat dianggap sebagai penyumbang terbesar bagi dunia sains modern. Ia juga sering disebut-sebut sebagai "bapak astronomi modern", "bapak fisika modern", dan "bapak sains". Hasil usahanya bisa dikatakan sebagai terobosan besar dari Aristoteles. Konfliknya dengan Gereja Katolik Roma (Peristiwa Galileo) adalah sebuah contoh awal konflik antara otoritas agama dengan kebebasan berpikir (terutama dalam sains) pada masyarakat Barat.

Biografi

Galileo Galilei dilahirkan di Pisa, Tuscany pada tanggal 15 Februari 1564 sebagai anak pertama dari Vincenzo Galilei, seorang matematikawan dan musisi asal Florence, dan Giulia Ammannati. Ia sudah dididik sejak masa kecil. Kemudian, ia belajar di Universitas Pisa namun terhenti karena masalah keuangan. Untungnya, ia ditawari jabatan di sana pada tahun 1589 untuk mengajar matematika. Setelah itu, ia pindah ke Universitas Padua untuk mengajar geometri, mekanika, dan astronomi sampai tahun 1610. Pada masa-masa itu, ia sudah mendalami sains dan membuat berbagai penemuan.
Pada tahun 1612, Galileo pergi ke Roma dan bergabung dengan Accademia dei Lincei untuk mengamati bintik matahari. Di tahun itu juga, muncul penolakan terhadap teori Nicolaus Copernicus|Copernicus, teori yang didukung oleh Galileo. Pada tahun 1614, dari Santa Maria Novella, Tommaso Caccini mengecam pendapat Galileo tentang pergerakan bumi, memberikan anggapan bahwa teori itu sesat dan berbahaya. Galileo sendiri pergi ke Roma untuk mempertahankan dirinya. Pada tahun 1616, Kardinal Roberto Bellarmino menyerahkan pemberitahuan yang melarangnya mendukung maupun mengajarkan teori Copernicus.
Galileo menulis Saggiatore di tahun 1622, yang kemudian diterbitkan pada 1623. Pada tahun 1624, ia mengembangkan salah satu mikroskop awal. Pada tahun 1630, ia kembali ke Roma untuk membuat izin mencetak buku Dialogo sopra i due massimi sistemi del mondo yang kemudian diterbitkan di Florence pada 1632. Namun, di tahun itu pula, Gereja Katolik menjatuhkan vonis bahwa Galileo harus ditahan di Siena.
Di bulan Desember 1633, ia diperbolehkan pensiun ke vilanya di Arcetri. Buku terakhirnya, Discorsi e dimostrazioni matematiche, intorno à due nuove scienze diterbitkan di Leiden pada 1638. Di saat itu, Galileo hampir buta total. Pada tanggal 8 Januari 1642, Galileo wafat di Arcetri saat ditemani oleh Vincenzo Viviani, salah seorang muridnya.

Astronomi

Tidak seperti yang dipercaya sebagian orang, Galileo tidak menciptakan teleskop tapi ia telah menyempurnakan alat tersebut. Ia menjadi orang pertama yang memakainya untuk mengamati langit, dan untuk beberapa waktu, ia adalah satu dari sedikit orang yang bisa membuat teleskop sebagus itu. Awalnya, ia membuat teleskop hanya berdasarkan deskripsi tentang alat yang dibuat di Belanda pada 1608. Ia membuat sebuah teleskop dengan perbesaran 3x dan kemudian membuat model-model baru yang bisa mencapai 32x. Pada 25 Agustus 1609, ia mendemonstrasikan teleskop pada pembuat hukum dari Venesia. Selain itu, hasil kerjanya juga membuahkan hasil lain karena ada pedagang-pedagang yang memanfaatkan teleskopnya untuk keperluan pelayaran. Pengamatan astronominya pertama kali diterbitkan di bulan Maret 1610, berjudul Sidereus Nuncius.
Galileo menemukan tiga satelit alami Jupiter -Io, Europa, dan Callisto- pada 7 Januari 1610. Empat malam kemudian, ia menemukan Ganymede. Ia juga menemukan bahwa bulan-bulan tersebut muncul dan menghilang, gejala yang ia perkirakan berasal dari pergerakan benda-benda tersebut terhadap Jupiter, sehingga ia menyimpulkan bahwa keempat benda tersebut mengorbit planet.
Galileo adalah salah satu orang Eropa pertama yang mengamati bintik matahari, diperkirakan Astronomi astronom Tionghoa sudah mengamatinya sejak lama. Selain itu, Galileo juga adalah orang pertama yang melaporkan adanya gunung dan lembah di bulan, kesimpulan yang diambil melihat dari pola bayangan yang ada di permukaan. Ia kemudian memberi kesimpulan bahwa bulan itu "kasar dan tidak rata, seperti permukaan bumi sendiri", tidak seperti anggapan Aristoteles yang menyatakan bulan adalah bola sempurna.
Galileo juga mengamati planet Neptunus pada 1612 namun ia tidak menyadarinya sebagai planet. Pada buku catatannya, Neptunus tercatat hanya sebagai sebuah bintang yang redup.

king ping pong

seberapa tepat tembakan anda???